KPM Protes! Terdata di DTSEN dengan Desil Tinggi, Padahal Realitanya Belum Tentu!? Mengapa Demikian? Cek Penjelasannya!
Banyak Keluarga Penerima Manfaat (KPM) belakangan ini mengeluhkan status mereka yang tiba-tiba tercatat desil tinggi di DTSEN (Data Terpadu Sistem Ekonomi Nasional). Masalahnya, kondisi ekonomi di lapangan tidak sesuai dengan data tersebut. Ada yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi sistem justru menandai mereka “tidak layak” karena dianggap mampu.
Keluhan ini sangat wajar, karena penentuan desil sangat berpengaruh terhadap:
Lalu, mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Apa penyebab desil tinggi padahal kondisi di lapangan rendah? Dan apa yang harus dilakukan oleh KPM?
Mari kita bahas secara lengkap, jelas, dan mudah dipahami kantor-klikbantuan.

Apa Itu Desil dalam DTSEN?
Sebelum masuk ke masalah, kita perlu memahami dulu apa itu desil.
Dalam DTSEN, masyarakat dibagi menjadi beberapa tingkat kesejahteraan:
Masalah muncul ketika KPM yang sebenarnya hidup pas-pasan, malah masuk desil tinggi, sehingga dianggap mampu dan tidak lagi menerima bansos.
Mengapa Banyak KPM Terdata Sebagai Desil Tinggi Padahal Kondisi Tidak Mampu?
Inilah bagian yang membuat banyak KPM bingung dan protes.
Ada beberapa alasan mengapa hal ini bisa terjadi:
Data Lama yang Belum Diperbarui
Banyak data rumah tangga masih mengacu pada:
Jika dahulu kondisi ekonomi baik, tetapi sekarang menurun, sistem tetap menilai sesuai data lama.
Kesalahan Input dari Petugas atau Aplikasi
Dalam pendataan, human error sangat mungkin terjadi:
Kesalahan kecil bisa berdampak besar pada penilaian desil.
Sistem Menilai Berdasarkan Aset Fisik, Bukan Kondisi Real
Sistem DTSEN sering menilai berdasarkan:
Contoh kasus:
Padahal kondisi ekonomi sering jauh dari penilaian sistem.
Ada Anggota Keluarga yang Terdata Berpenghasilan Tinggi
Kadang sistem membaca pendapatan berdasarkan:
Kendala:
Seseorang bisa saja terdaftar bekerja, tetapi:
Sistem Mengambil Data dari Sumber Berbeda
DTSEN menggabungkan data dari:
Jika salah satu data menunjukkan “kemampuan finansial tinggi”, desil otomatis naik meski realitanya tidak demikian.
Dampak Jika Terdata Sebagai Desil Tinggi
Jika KPM muncul sebagai desil tinggi, dampak langsungnya adalah:
Berisiko Tidak Lagi Dapat PKH
Desil tinggi = dianggap tidak miskin → PKH bisa dihentikan.
Terhapus dari BPNT/Kartu Sembako
Padahal masih sangat membutuhkan.
Tidak Masuk Penerima Bantuan Beras
Karena yang diprioritaskan hanya desil rendah.
Tidak dapat bansos darurat
Seperti BLT Kesra, BLT inflasi, atau bantuan daerah.
Mengapa Perubahan Desil Bisa Terjadi Tiba-Tiba?
Beberapa alasan umum:
Terkadang KPM tidak diberi pemberitahuan terlebih dahulu.
Apakah KPM Bisa Mengajukan Perbaikan Jika Desil Tidak Sesuai?
Ya! KPM yang merasa keberatan berhak mengajukan perbaikan data.
Berikut cara paling mudah yang bisa dilakukan.
Cara Mengatasi Jika Anda Terdata Desil Tinggi Padahal Tidak Mampu
Berikut cara paling mudah yang bisa dilakukan.
Laporkan ke Kantor Desa atau Kelurahan
Ini langkah pertama dan paling efektif.
Sampaikan:
Petugas bisa mengajukan perbaikan data DTKS.
Minta Pendataan Ulang
KPM berhak meminta agar petugas melakukan survei rumah.
Ini penting untuk:
Perbaiki Data di Aplikasi DTKS atau Cek Bansos
Jika ada ketidaksesuaian:
Anda dapat meminta perbaikan melalui operator desa.
Pastikan Data Dukcapil Terupdate
Banyak desil bermasalah karena data KK/KTP tidak sinkron.
Pastikan:
Bawa Bukti Pendukung
Beberapa bukti yang membantu:
Faktor yang Dianggap Sistem sebagai Penentu Kesejahteraan
Ini penting dipahami agar tidak salah paham.
Sistem menilai:
Karena dianggap sebagai indikator kemampuan.
Jika Anda merasa penilaian tidak sesuai, minta petugas mendata ulang.
Mengapa Banyak KPM Senasib?
Karena:
Masalah ini bukan dialami satu atau dua orang, tetapi ribuan KPM di seluruh Indonesia.
Apakah Desil Bisa Turun Lagi?
Bisa. Selama:
desil dapat turun sehingga peluang menerima bansos kembali terbuka.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Penutup
Masalah KPM yang tiba-tiba masuk desil tinggi di DTSEN memang sering terjadi. Namun hal ini bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Banyak faktor yang menyebabkan kesalahan data, mulai dari sistem yang belum diperbarui, kesalahan input, hingga penilaian aset yang tidak sesuai kondisi nyata.
Yang paling penting adalah aktif mengecek data dan melapor jika ada ketidaksesuaian, karena data yang benar sangat menentukan apakah seseorang masih layak menerima bantuan sosial atau tidak.